LINTAS SULAWESI
Asia Pasifik Eropa LINE: Olahraga OLAHRAGA

Novak Djokovic Tiba di Serbia setelah Dideportasi Australia

Novak Djokovic Tiba di Serbia setelah Dideportasi Australia


Petenis nomor satu dunia, Novak Djokovic kembali ke negara asalnya, Serbia, pada hari Senin (17/1) setelah upaya bandingnya agar tetap diizinkan berada di Australia kalah di pengadilan. Kekalahan itu menyebabkannya dideportasi karena belum divaksinasi COVID-19.

Petenis pria nomor 1 dunia itu tiba di Bandara Nikola Tesla, Belgrade, di mana beberapa sumber memberitahu media massa bahwa dirinya dikawal melalui “pintu keluar teknis.”

Sekelompok kecil penggemar menunggunya di luar area kedatangan, beberapa di antaranya meneriakkan, “Kamu adalah juara kami!” sementara yang lain melambaikan bendera Serbia. Salah satu poster bertuliskan, “Novak, Tuhan memberkatimu.”

Juara tenis berusia 34 tahun itu mendarat di Melbourne, Australia pada 5 Januari 2022 untuk mengikuti kejuaraan Australia Terbuka dengan harapan memenangkan gelar juara grand slam untuk ke-21 kalinya. Statusnya yang belum divaksinasi COVID-19 melanggar aturan imigrasi Australia, tetapi ia diberikan pengecualian medis dari dua panel kesehatan independen yang dibentuk pemerintah negara bagian Victoria dengan otoritas tenis Australia. Djokovic sendiri sempat menderita COVID-19 pada Desember 2021.

Akan tetapi, pejabat perbatasan Australia membatalkan visanya, menyebabkannya dibawa ke hotel detensi imigrasi di Melbourne. Visanya lantas dipulihkan oleh seorang hakim Australia seminggu yang lalu, namun dicabut untuk kedua kalinya pada hari Jumat (14/1) oleh Menteri Imigrasi Alex Hawke, yang mengatakan bahwa kehadiran Djokovic di negara itu dapat membangkitkan sentimen anti-vaksinasi.

Pengacara juara tenis itu bersikeras bahwa argumen pemerintah tidak rasional dan tidak logis, tetapi tiga hakim pengadilan federal dengan suara bulat tidak setuju dan menolak banding Djokovic.

Djokovic telah memenangkan kejuaraan Australia Terbuka sembilan kali. Apabila ia memenangkan kejuaraan kali ini, kemenangan grand slam-nya yang ke-21 itu akan menjadikannya petenis pria paling sukses dalam sejarah.

Sebelum ia meninggalkan Australia, ia mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa dirinya “sangat kecewa dengan keputusan pengadilan” namun menghormati keputusan itu dan akan “bekerja sama dengan otoritas terkait sehubungan dengan kepergian saya dari negara itu.”

Kepergian Djokovic dari Australia menutup, setidaknya, babak pertama drama di dunia olahraga elit, politik pandemi di Australia dan perdebatan terpolarisasi terkait vaksinasi COVID-19.

Meski babak pertama telah usai, babak berikutnya dimulai seiring munculnya pertanyaan terkait apakah ia akan dilarang dari turnamen grand slam berikutnya, Prancis Terbuka. [rd/jm]

Related posts

Pangkalan Militer China Tidak Akan Dibangun di Solomon

Pemanasan PON Papua 2021, Kejuaraan Panahan se-Sulsel Diikuti 128 Atlet

DJM 'Come Back' Ukir Prestasi Bola Di Tanah Papua Siap Lahirkan Toraja United FC

error: Mauki Apa Ces