LINTAS SULAWESI
› Bulangan londong

Melestarikan Adat Budaya Toraja, Pemerhati Adat Gelar Workshop Kebudayaan Toraja

Melestarikan Adat Budaya Toraja, Pemerhati Adat Gelar Workshop Kebudayaan Toraja
Gambar: Lekatnews.org

Lintassulawesi.com, Toraja Utara – Suku Toraja dikenal dengan suku yang kaya akan adat istiadat yang masih kental. Adat dan kebudayaan suku Toraja sudah terkenal se-nusantara sehingga membuat banyak wisatawan asing berkunjung di Tondok Lepongan Bulan Tana’ Guntingna Matari’ Allo (Toraja) ini, untuk menikmati destinasi adatnya. 

Kendati demikian, Pemerhati Adat menggelar Workshop Kebudayaan Toraja, guna membahas langkah-langkah melestarikan adat budaya Suku Toraja yang dilaksanakan di Tongkonan Remen Pongrante, Kab Toraja Utara, Selasa, 14 September 2021.

Dua pamateri dalam kegiatan yaitu, Apriadi Bumbungan, S.S, M.Hum yang merupakan peneliti budaya Toraja dan Tarra’ Sampetoding, Budayawan/Tokoh Adat Toraja.

Kegiatan itu digelar beberapa jam dan dihadiri oleh Tokoh Adat, Bupati Toraja Utara dan para pemerhati Adat Toraja. Kegiatan itu resmi berjalan setelah dibuka oleh Bupati Toraja Utara Yohanis Bassang yang akrab disapa Ombas Dedi. 

Anggota DPRD Tana Toraja Ratte Salurante yang juga hadir dalam kegiatan workshop mengatakan bahwa Budaya Toraja akan dibukukan agar dapat dipertanggungjawabkan. 

“Agar kita mampu untuk mempertanggungjawabkan dan begitu juga tentang nilai-nilai budaya dapat terakomodir,” ungkap Salurante.

Ia juga menyinggung terkait Bulangan Londong yang kerap menjadi perbincangan dan polemik di dalam masyarakat. Menurut Ratte sendiri hal itu adalah adat Suku Toraja. 

“Itulah yang menjadi pembicaraan bahwa Bulangan Londong itu adalah adat Toraja,” jelas Ratte Salurante.


Menurut Apriadi Bumbungan, ada ancaman bagi kebudayaan lokal akan punah kalau tidak dibuatkan strategi dengan pokok-pokok kebudayaan di masa depan.


“Kebudayaan lokal harus direvitalisasi nilai-nilainya sesuai dengan konteks zaman. Biar bisa jadi media untuk bertahan hidup bagi masyarakat pemiliknya, sekaligus jadi penanda identitasnya,” ungkap Apriadi.

style="display:block; text-align:center;" data-ad-layout="in-article" data-ad-format="fluid" data-ad-client="ca-pub-8551527721222213" data-ad-slot="4052704817">